Trip To Pariangan

Kopi Kawa

NAGARI PARIANGAN

(Tanah Datar, Sumbar)

Desa Terindah Di Dunia

Nagari Pariangan adalah sebuah desa kuno yang indah dan terletak dilereng gunung Merapi yaitu Desa Pariangan, yang berada di kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Pariangan merupakan nagari tertua di ranah Minang.

Dikutip dari Kompas.com Daerah yang terletak di kaki Gunung Marapi tersebut berdasarkan tambo atau cerita rakyat dipercaya luas sebagai asal-usul orang Minangkabau. Dalam tambo yang tersimpan di nagari itu, Wali Nagari Tuo Pariangan April Khatib Saidi meyakini asal-usul orang Minangkabau berasal dari keturunan Iskandar Zulkarnain.

Nagari Pariangan dapat anda tempuh sekitar tiga jam dari Padang, Ibu Kota Propinsi Sumatera Barat. Lokasi ini berjarak sekitar 14 km dari Kota Batusangkar, Ibukota Kabupaten Tanah Datar.

Keberadaan Nagari Pariangan sebetulnya sudah diketahui sejak beberapa tahun lalu. Namun baru belakangan inilah Nagari Pariangan semakin banyak dikunjungi pendatang. Tak hanya turis lokal, tapi turis dari mancanegarea pun kerap mampir di sini.

sunyi dan damai
Mesjid Taqwa Guguk Pariangan

Sebetulnya apa yang menarik dari Nagari Pariangan? Pariangan merupakan nagari tertua di Minangkabau dan berada tepat di lereng Gunung Marapi. Mengacu, Budget Travel, media pariwisata internasional yang sudah cukup lama eksis, Pariangan termasuk dalam daftar desa terindah dunia. Selain Nagari Pariangan, desa-desa lain yang masuk kelompok terindah di dunia versi majalah itu adalah Desa Wengen di Swiss, Eze (Prancis), Niagara on The Lake (Kanada), dan Cesky Krumlov (Ceko).

Masjid Kuno

Masjid Tuo Ishlah Pariangan

Dari segi arsitektur, Masjid Tuo Ishlah memiliki bentuk unik dan Masjid Islah ini telah berusia ratusan tahun, masjid ini mengadopsi gaya arsitektur dongson ala dataran tinggi Tibet, ini bisa kita lihat dari bentuk atap serta tiap sisinya yang memiliki banyak jendela, hal ini menyerupai bangunan-bangunan ala Tibet.

Dari sisi kirinya ada enam jendela begitu juga dengan sisi kanannya. Atapnya memiliki bentuk bertingkat-tingat dengan ukuran berbeda. Untuk atap terbesar ini ada empat tingkat, atap menengah ada tiga tingkat dan atap kecil ada dua tingkat.

Dindingnya berwarna coklat muda namun bagian di bawah jendela berwarna merah bata seperti atap. Masjid ini memiliki ukuran 16 x 24 meter disanggah oleh enam tonggak dalam masjid yang memiliki filosofi.

“Enam tonggak tersebut sebagai simbol rukun Islam,” tutur Tokoh Adat, Zamaludin Datuk Mangkuto, (83)

Kopi Kawa

Hal unik lainnya yang bisa kamu temukan di Nagari Tuo Pariangan adalah kopi kawa daun. Tidak seperti kopi pada umumnya, di desa ini penduduknya menyajikan kopi yang dibuat dari pucuk daun pohon kopi. Cara pembuatan kopi ini juga sama seperti teh, namun disajikan menggunakan batok kelapa.

Penggunaan bahan yang berbeda ini mampu menghasilkan cita rasa unik. Tampilannya berwarna kecoklatan, tidak hitam seperti kopi lainnya. Kopi ini telah dinikmati oleh pribumi sejak zaman penjajahan Belanda. Saat itu rakyat pribumi harus menjual biji kopi pada kolonial Belanda dan hanya bisa menikmati seduhan kopi dari daunnya saja.

Rumah Gadang Tuo

Budaya lain yang tak kalah unik adalah Rumah Gadang Tuo. Berbeda dengan Rumah Gadang pada umumnya, di desa ini Rumah Gadang dibangun menggunakan anyaman bambu sebagai dindingnya. Bangunan ini juga hanya dapat kamu temukan di Desa Pariangan.

Karena statusnya yang sudah langka, maka pemerintah setempat menetapkan Rumah Gadang Tuo sebagai bangunan cagar budaya. Meski terlihat tua, rumah ini masih berdiri kokoh dan tetap menjadi tempat tinggal penduduk lokal Desa Nagari Tuo Pariangan.

Menarik bukan ? Beberapa kali ke Sumbar, saya baru tahu tempat ini dari Youtube, padahal jaraknya tidak jauh dari kampung keluarga saya

Unik Memang >_<, Siapa ? Saya =D, Baru tahunya sekarang =D